Kenapa
kau tak tersenyum? Kenapa kau tak tertawa?
Ya
karena bukan dia
Kau
memang tak sepintar dia dalam membuatku tertawa
Namun
kau tak sepintar dia membuatku muak
Aku
mulai berfikir untuk entah
Untuk
hal yang entah
Entah
apa?
Entah
lah
Namun
fakta lain dari “entah” ini adalah ?
Ya
madu dan racun
Menghabiskan
waktu dengamu, bersamamu, bercanda, bercerita membuatku mengalir dalam guraumu,
namun disisi yang berseberangan aku ditawarkan madu ssekaligus racun. Memang
menyenangkan jika menikmati manisnya madu, namun aku sadar bahwa kita berada
komitmen yang berbeda, keraguan akan selalu muncul ketika komitmen telah buyar,
ya itu realistis. Sementara inginku menjadi follower di senyumnya hatimu, namun
aku tak bisa tak melihat pekatnya! Loyalitas? Ya jika kita ingin sebuah hasil
kita harus menghargai sebuah perjuangan, maka dari itu aku ingin berusaha
berjuang, namun kali ini aku tak mau berjuang dengan terlalu keras, ingat sedikit
banyak luka dari peperangan kemarin, bagai “from zero to zero”, namun tak perlu menyesal, pertempuran kemarin
telah membuat sebuah sejarah dan noted ! “
Our heroes will be watching, and he said you are bestfighter”. Hanya
pecundang yang tak menghargai sebuah perjuangan. Dan mulailah tersnyum jika
melihat kaca ! camkan !
Sekarang
aku kembali menjadi protagonist di indahnya dunia! misiku harus bisa menawarkan
racun karena sisi madumu harus selalu dilihatkan, memang bukan hal yang mudah,
jika ingin mudah mending tersenyumlah pada tembok !






